Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia sekaligus berada dalam lintasan Ring of Fire, memiliki sejumlah gunung api aktif yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa, keberlanjutan lingkungan, serta stabilitas sosial ekonomi. Mengingat besarnya spektrum risiko tersebut, langkah mitigasi bencana yang komprehensif dan terstruktur menjadi kebutuhan krusial.
Akademisi Program Studi Manajemen Bencana dari Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), Dr. Widya Soviana, S.T., M.Si., IPM, menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap dinamika vulkanologi serta potensi bencana berantai (cascading hazards), khususnya bagi masyarakat di wilayah pesisir.
Menurutnya, erupsi gunung api terjadi akibat peningkatan tekanan dan temperatur magma di dalam perut bumi yang terintegrasi dengan dinamika lempeng tektonik. Fenomena ini memicu berbagai bahaya primer dan sekunder yang berpotensi meluas hingga ke luar radius letusan. Di antaranya adalah fenomena awan panas yang bercampur dengan gas dan material vulkanik bersuhu tinggi dengan laju pergerakan cepat yang berisiko fatal bagi keselamatan jiwa serta aliran magma pijar yang dapat memusnahkan infrastruktur.
Selain itu, terdapat ancaman aliran material vulkanik bercampur air yang membahayakan daerah aliran sungai dan dataran rendah, sebaran partikel halus yang mengganggu pernapasan, merusak infrastruktur, memicu pencemaran air, serta konsentrasi gas berbahaya seperti SO₂, CO₂, dan H₂S. Lontaran material, gempa vulkanik, dan longsoran lereng juga dapat memicu ketidakstabilan struktur tanah serta kerusakan fisik bangunan secara masif. Selain bahaya darat,
Dr. Widya menggarisbawahi juga adanya potensi tsunami sekunder akibat aktivitas vulkanik di kawasan pesisir. Tsunami akibat erupsi ini dapat dipicu oleh longsoran skala besar dari tubuh gunung api ke laut, runtuhnya kaldera, masuknya aliran material vulkanik bervolume besar secara mendadak, maupun ledakan vulkanik bawah laut.
“Masyarakat di wilayah pesisir yang berdekatan dengan gunung api harus menyadari bahwa erupsi dan tsunami dapat terjadi sebagai rangkaian bencana yang saling berkaitan. Kesadaran kritis ini harus memicu aksi cepat tanpa menunggu kondisi memburuk,” tegas Dr. Widya Soviana.
BACA JUGA
Sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat, Dr. Widya mengajak kepada seluruh elemen khsusnya yang berada di sekitar kawasan untuk menerapkan langkah kesiapsiagaan prabencana, saat bencana, hingga pascabencana secara disiplin memahami Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB), jalur evakuasi, dan titik kumpul resmi, serta menyiapkan Tas Siaga Bencana (kebutuhan dasar, logistik medis, dokumen penting, dan alat pelindung diri seperti masker dan kacamata pelindung).
Memantau perkembangan secara berkala melalui saluran resmi pemerintah dan lembaga berwenang seperti PVMBG, BNPB, BPBD, dan Pos Pengamatan Gunung Api. Segera melakukan evakuasi mandiri begitu menerima peringatan resmi atau merasakan indikasi alamiah (gempa berulang, suara gemuruh dari laut, atau surutnya air laut secara abnormal).
Menggunakan perlengkapan pelindung diri (masker, kacamata pelindung, dan pakaian panjang) untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik. Menghindari aktivitas di area terdampak hujan abu tebal serta tidak terburu-buru kembali ke wilayah pesisir sebelum adanya komando resmi dari otoritas berwenang, mengingat tsunami dapat terjadi dalam beberapa gelombang beruntun.
Melakukan pembersihan endapan abu pada atap bangunan secara hati-hati guna mencegah risiko keruntuhan struktur. Keselamatan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana vulkanik sangat bergantung pada kapasitas literasi risiko, ketepatan dalam merespons peringatan dini, serta kecepatan tindakan evakuasi.
“Mitigasi yang efektif tidak hanya berfokus pada respons saat bencana, tetapi juga pada pembentukan budaya siaga secara kolektif,” tegasnya. (Humas)
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: UNMUHA (Universitas Muhammadiyah Aceh) • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca