ums.ac.id, SURAKARTA – Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melantik dan mengambil sumpah dokter gigi Periode XXXVI Program Studi Profesi Dokter Gigi, Sabtu (12/9/2026), bertempat di Mercure Hotel Solo. Dari 25 mahasiswa tingkat akhir yang mengikuti Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi (UKMP2DG), sebanyak 96 persen dinyatakan lulus. Capaian tersebut menjadi bagian dari konsistensi FKG UMS dalam menyiapkan dokter gigi yang kompeten, profesional, dan berintegritas.

Dalam laporan akademiknya, Wakil Dekan I FKG UMS, drg. Morita Sari, MPH., Dr. PH., menyebutkan bahwa ke-25 peserta ujian tersebut telah memenuhi seluruh persyaratan akademik, klinik, dan administratif, dengan rata-rata indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,72 dan rata-rata masa studi dua tahun tiga bulan. Predikat lulusan terbaik periode ini diraih Rizkha Hatma Putra dengan IPK 3,88 dan masa studi tercepat, yakni satu tahun 11 bulan.

“Outcome kelulusan ini adalah bukti konsistensi mutu pendidikan, kesiapan klinis mahasiswa, dan komitmen seluruh sivitas akademika terhadap standar profesionalisme,” tegas Morita, Sabtu (12/9/2026).

Ia menambahkan, capaian tersebut menambah rekam jejak FKG UMS yang berdiri sejak 2010 dan kini telah meluluskan 592 dokter gigi. Morita menegaskan, keberhasilan para lulusan tidak lahir dari kerja satu pihak, melainkan buah dari kedisiplinan mahasiswa, bimbingan dosen, kerja para penguji dan panitia, serta dukungan orang tua dan keluarga. Ia berharap para dokter gigi baru mampu membawa kompetensi tersebut ke dalasm ruang pengabdian dengan integritas dan kepedulian terhadap masyarakat.

Dalam sambutannya, Dekan FKG UMS, Dr. drg. Noor Hafida Widyastuti, Sp.KG., menegaskan bahwa pengambilan sumpah bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal dari amanah profesional yang lebih besar. Para lulusan dituntut mengimplementasikan ilmu dan keterampilan klinis yang diperoleh selama pendidikan sarjana maupun profesi. Ia juga meminta para lulusan menjaga nama baik almamater di manapun menjalankan profesi.

Menurutnya, gelar dokter gigi harus diikuti kemauan untuk terus meningkatkan kompetensi melalui pendidikan lanjutan, baik spesialis maupun magister.

“Jaga adab, etika, dan kompetensi yang sudah didapatkan itu benar-benar diimplementasikan dengan baik. Jangan pernah berhenti belajar karena ilmu kedokteran gigi terus berkembang. Jadikan profesi dokter gigi ini sebagai jalan ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Jadilah dokter gigi yang cerdas ilmunya, terampil tangannya, baik hatinya, kuat integritasnya, dan luas manfaatnya,” pesannya.

Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Pengembangan Talenta-Inovasi, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan Rektor agar para lulusan menjaga tiga nama besar yakni, almamater UMS, profesi dokter gigi, dan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan. Ia menegaskan bahwa profesionalisme dokter harus dijaga tanpa membeda-bedakan latar belakang pasien, sejalan dengan semakin kritisnya masyarakat yang kini tidak hanya ingin sembuh, tetapi juga memahami kondisi kesehatannya secara utuh.

Menariknya, Ihwan membagikan pengalaman ketika asesor akreditasi internasional asal Jerman menanyakan kepada pengguna lulusan mengenai keunggulan alumni UMS dibanding kampus lain. Jawaban yang diterima justru mengejutkan sang asesor.

“Yang beda hanya satu, apa yang lain berarti sama-sama kemampuannya, kecepatannya, skill-nya dengan yang lain, bahkan mungkin melebihi. Tapi yang satu ini luar biasa, apa itu, integritas,” ucap Ihwan menirukan jawaban pengguna lulusan tersebut, sekaligus menegaskan bahwa integritas menjadi nilai yang mahal dan membedakan lulusan UMS di dunia kerja.

Lebih jauh, ia menyoroti pergeseran karakter pasien masa kini sebagai tantangan sekaligus peluang bagi para dokter gigi baru. Menurutnya, pasien tidak lagi sekedar datang untuk sembuh, tetapi semakin kritis dan aktif menggali informasi seputar penyakit yang diderita, penyebabnya, hingga jenis pengobatan yang akan dijalani.

Kondisi ini, kata dia, menuntut dokter gigi masa kini untuk tidak hanya andal secara klinis, tetapi juga cakap berkomunikasi dan mampu menghadirkan rasa aman bagi pasiennya. “Pasien merasa lebih tenang karena dokter merawat dengan hati dan menyembuhkan dengan ilmu,” tegas Ihwan, Ia mendorong lulusan untuk terus belajar, menjaga kejujuran kepada pasien dan diri sendiri, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMS, Prof. Dr. Sabar Narimo, M.M., M.Pd., menilai peluang pengabdian bagi dokter gigi masih sangat luas seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan berkembangnya layanan kedokteran gigi di berbagai daerah. Ia juga mendorong para lulusan untuk tetap terhubung dengan Persyarikatan Muhammadiyah serta mengingatkan untuk meningkatkan keimanan, berbakti kepada orang tua, serta membiasakan diri berbuat baik.

“Kedokteran gigi sangat dibutuhkan di Indonesia. Impian menjadi dokter itu masih sangat besar, dan pekerjaan akan selalu menantang apabila Anda betul-betul berkeinginan untuk mencapainya. Dan di mana pun berada, carilah ranting Muhammadiyah, dukung kegiatan-kegiatannya, dan masuklah sebagai bagian dari pengurus Muhammadiyah. Anda dilahirkan di Muhammadiyah dan kemudian akan menjadi bagian dari kader-kader Muhammadiyah,” pesannya. (ARP/Humas)

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: UMSKunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...