AS
KLIKMU.CO – Di ruang utama Masjid Mujahidin Surabaya, puluhan jamaah duduk khusyuk menyimak setiap kalimat yang disampaikan pria berkemeja krem. Bukan sekadar pengajian biasa, kegiatan yang digelar Komunitas Pejuang Damai (KPD) Surabaya pada akhir pekan lalu ini menghadirkan sosok dengan perjalanan hidup yang penuh dinamika, Dr Muhammad Saifuddin Umar Lc MPd atau akrab disapa Abu Fida.
Mantan deklarator ISIS Indonesia yang kini aktif sebagai agen perdamaian tersebut dipercaya menjadi pemateri utama dalam “Dauroh Penjelasan Isi Kitab Hadd al-Kufr wa al-Takfir” yang berlangsung di Masjid Mujahidin, salah satu pusat kegiatan keislaman di Kota Pahlawan, Minggu (6/9/2026).
Kegiatan yang mengkaji kitab karya Prof Dr Luthfulloh Abdul Adzim Khouzah, Guru Besar Senior Jurusan Aqidah Islamiyah Universitas Ummul Qura Makkah, ini mengupas salah satu isu sensitif dalam wacana keislaman, yakni batas-batas kekafiran dan hukum takfir.
Di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, pemahaman keliru tentang takfir dinilai dapat memicu perpecahan, bahkan kekerasan. Masjid Mujahidin dipilih sebagai lokasi kegiatan karena aksesnya strategis dan memiliki kapasitas yang memadai untuk menampung peserta dari berbagai kalangan.
Perjalanan hidup Abu Fida menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan tersebut. Pria yang pernah menjalani proses hukum terkait kasus terorisme selama tiga tahun itu hadir bukan sekadar sebagai mantan narapidana terorisme, melainkan sebagai akademisi yang berhasil meraih gelar doktor dengan disertasi yang mengupas pemikiran jihad Ibnu Taimiyah dan kaitannya dengan radikalisme.
Dalam pemaparannya di hadapan jamaah Masjid Mujahidin, Abu Fida mengawali dengan pengakuan tentang masa kelam yang pernah dilaluinya.
“Saya terpapar ideologi radikal saat kelas 6 di pesantren, sekitar tahun 1984, setelah membaca buku-buku karya Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna, dan Kartosuwiryo,” ujarnya.
Dua kali ia harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Pertama pada 2004, ia ditangkap Densus 88 di Asrama Haji Sukolilo dengan dugaan menyembunyikan informasi tentang pelaku teroris. Kedua pada 2014, ia kembali ditangkap karena terlibat dalam deklarasi ISIS di Solo, Jawa Tengah.
Pengalaman menjalani masa penahanan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, selama dua tahun menjadi salah satu titik balik dalam kehidupannya.
“Selama di penjara, saya mengalami titik balik yang mendalam melalui perenungan dan introspeksi diri,” kenangnya.
“Saya menemukan ketenangan dengan membaca karya-karya yang membahas makna jihad secara lebih dalam. Saya mulai memahami konsep jihad dari sudut pandang yang lebih damai dan terarah, tidak selalu harus diwarnai kekerasan.”
Takfir dan Ancaman terhadap Persatuan
Memasuki sesi inti, Abu Fida menjelaskan bahwa persoalan takfir merupakan isu yang sangat sensitif dan memiliki implikasi luas terhadap kehidupan bermasyarakat.
“Orang yang memiliki pemahaman atau ideologi yang sarat dengan kekerasan tentu butuh proses yang berkesinambungan untuk membuatnya menjadi normal dan terbuka pada perbedaan,” tegasnya.
Dia menekankan bahaya ketika seseorang dengan mudah mengkafirkan orang lain.
“Masalah takfir ini sangat berbahaya. Ketika seseorang dengan mudah mengkafirkan orang lain, maka dengan mudah pula ia menghalalkan darahnya. Inilah yang menjadi akar dari kekerasan dan terorisme yang terjadi di masyarakat,” tambahnya.
Menurutnya, pemahaman yang keliru tentang takfir dapat menjadi pintu masuk bagi tindakan radikal.
“Kita sebagai seorang muslim hanya mampu membaca secara zahirnya. Nabi Muhammad mengajari kita untuk menilai orang, komunitas, atau kelompok itu dengan apa yang tampak. Secara batin atau niat seseorang, hanya Allah Yang Mahatahu,” ungkapnya.
Abu Fida juga menjelaskan sejumlah ciri seseorang yang telah terpapar doktrin radikal, salah satunya dapat terlihat dari penggunaan dalil secara tekstual tanpa memahami konteks.
BACA JUGA
“Yang pertama, dalam bentuk lisan, ini kaitannya dengan ujaran kebencian. Misalnya menyalahkan si A, mengkafirkan si A. Sesuatu yang tidak disukai dikatakan salah sehingga itu ujaran kebencian,” pungkasnya.
KPD dan Upaya Reintegrasi Napiter
Kegiatan tersebut diselenggarakan Komunitas Pejuang Damai (KPD) Surabaya, sebuah wadah bagi mantan narapidana terorisme yang memprioritaskan reintegrasi sosial.
KPD menjadi salah satu ruang yang menunjukkan bahwa perubahan memungkinkan terjadi dan mantan napiter dapat kembali berkontribusi di tengah masyarakat. Pemilihan Masjid Mujahidin sebagai lokasi kegiatan juga menunjukkan fungsi masjid sebagai tempat ibadah, pendidikan, dan penguatan perdamaian.
Koordinator KPD Surabaya, Ustaz Hambali, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program berkelanjutan untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap paham ekstremisme.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mereka yang pernah salah jalan masih bisa kembali dan berkontribusi bagi keamanan dan perdamaian,” ungkapnya di sela-sela acara.
Kehadiran KPD di Surabaya menjadi bagian dari upaya reintegrasi dan pencegahan ekstremisme. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat membuka ruang dialog sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat tentang pentingnya keberagamaan yang damai.
Cinta Tanah Air sebagai Benteng
Salah satu poin penting yang disampaikan Abu Fida adalah pentingnya menumbuhkan rasa cinta tanah air sebagai salah satu benteng menghadapi pemahaman radikal.
“Rekontekstualisasi ayat-ayat perintah berjihad dalam ajaran Islam agar sesuai dengan semangat NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sangat penting untuk merawat kebinekaan di Indonesia, sehingga ayat-ayat jihad tidak dimaknai dengan kondisi yang tidak sesuai kenyataan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda Rasulullah harus dikembalikan kepada ulama yang kompeten. Menurutnya, penafsiran yang keliru dapat disebabkan oleh pemahaman yang dangkal, kondisi psikologis yang tertekan, maupun politisasi oleh pihak tertentu.
Mengenai konsep cinta tanah air, Abu Fida menegaskan bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
“Indonesia dengan segala kebinekaannya harus terus dirawat dan dijaga dengan segenap kekuatan bangsa, termasuk umat Islam. Sinergi semua pihak dalam mencapai rida Allah adalah kunci untuk mewujudkan Indonesia yang damai dan harmonis,” ungkapnya.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga azan Zuhur tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum Surabaya.
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang menunjukkan antusiasme dan kepedulian terhadap isu radikalisme serta pentingnya pemahaman keagamaan yang moderat.
Panitia mencatat sekitar 25 jamaah hadir memenuhi ruang utama Masjid Mujahidin. Mereka antusias mengikuti sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan terkait penerapan pemahaman takfir yang benar di tengah masyarakat majemuk.
Menjelang akhir sesi, Abu Fida menyampaikan pesan tentang sejumlah faktor yang dapat membuat seseorang terpapar radikalisme.
“Orang yang terpapar radikalisme hampir 99 persen adalah karena adanya ketidakadilan yang disebabkan oleh lingkungan, kondisi sosial ekonomi, dan pengaruh ideologi,” ujarnya.
(M.S. Umar/AS)
Artikel ini Hadir di Surabaya, Eks Napiter Abu Fida Bongkar Bahaya Takfir Tayang Di klikmu.
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: KlikMU • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca