MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG – Mahasiswa Muhammadiyah harus bisa membedakan antara ilmu dengan ijazah, sebab tidak boleh menuntut ilmu itu berhenti hanya sampai pada ijazah.
Pesan itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad pada Sabtu (12/9) dalam Wisuda ke-9 Program Sarjana Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.
“Gelar adalah amanah ilmu yang saudara peroleh selama menempuh pendidikan di UMB dan harus diwujudkan dalam karya pengabdian dan kemanfaatan. Ilmu tidak boleh berhenti pada ijazah,” ungkap Dadang Kahmad.
Melainkan ilmu harus menjadi cahaya yang menerangi jalan kehidupan, menjadi kekuatan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, dan menjadi sarana untuk membangun peradaban maju.
Dadang menekankan, jangan sampai setelah mendapat gelar dan menerima ijazah, seorang mahasiswa merasa sudah selesai untuk belajar. Sebab dengan berbagai perubahan teknologi informasi akan berdampak pada kebutuhan dunia kerja.
BACA JUGA
“Karena itu jangan merasa bahwa setelah memperoleh ijazah maka proses belajar telah selesai. Justru setelah wisuda proses belajar sesungguhnya dimulai. Jadilah pembelajar sepanjang hayat,” katanya.
Institusi pendidikan seperti Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) adalah jalan masuk menuju luasnya ilmu kehidupan. Maka mahasiswa diminta untuk beradaptasi, berpikir kritis, kerja sama, komunikatif, dan mampu menggunakan teknologi secara bijak.
“Namun ada satu hal yang lebih penting dari pada sekadar kecerdasan dan keterampilan, yaitu karakter dan integritas. Dunia mungkin membutuhkan orang pintar, tetapi masyarakat sangat membutuhkan orang yang jujur,” imbuh Dadang.
Setelah mampu menyelesaikan pendidikan di PTMA, sambung Dadang, mahasiswa Muhammadiyah harus mengembangkan diri, terlebih untuk memupuk kepedulian kepada sesama sehingga adaptif terhadap lingkungan.
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: Persyarikatan Muhammadiyah • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca