Mahasiswa dan dosen Universitas Muhammadiyah Banten (UMBANTEN) turut menghadiri kegiatan Tangerang International Development Seminar (TIDS) 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, pada Senin, 25 Mei 2026. Seminar internasional tersebut menjadi forum strategis yang mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, serta berbagai pemangku kepentingan pembangunan dari dalam maupun luar negeri.

Kegiatan ini mengusung tema besar “Reimagining the Future of Regions: Smart, Resilient and Sustainable Pathways in a Disrupted World.” Seminar dibuka secara resmi oleh Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, S.Sos., M.Si., yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun daerah yang adaptif, tangguh, dan berkelanjutan di tengah tantangan global, perubahan iklim, serta perkembangan urbanisasi yang semakin pesat.

Universitas Muhammadiyah Banten menjadi salah satu perguruan tinggi yang diundang untuk mengikuti Subtheme 1: Infrastructure bertajuk “The Adaptive Urban Area and Coastal Development Planning for a Resilient Tangerang Regency.” Pada subtema tersebut, Universitas Muhammadiyah Banten hadir bersama sejumlah perguruan tinggi lain seperti IPB University, Monash University Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Institut Teknologi Indonesia, Universitas Esa Unggul, Universitas Tarumanagara, Universitas Prasetiya Mulya, hingga Universitas Katolik Atma Jaya. Berdasarkan data peserta seminar, setiap perguruan tinggi mengirimkan delegasi dosen dan mahasiswa sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kolaborasi akademik dalam pembangunan wilayah berkelanjutan.

Subtema infrastruktur tersebut membahas strategi pembangunan kawasan perkotaan dan pesisir Kabupaten Tangerang yang mampu beradaptasi terhadap berbagai tantangan lingkungan, seperti abrasi pantai, banjir rob, degradasi lingkungan, perubahan iklim, hingga tekanan pembangunan kawasan urban. Selain itu, diskusi juga menyoroti pentingnya pengembangan infrastruktur berkelanjutan, penguatan tata kelola wilayah pesisir, pengelolaan sumber daya air, penerapan konsep smart city dan resilient city, serta solusi berbasis alam sebagai pendekatan pembangunan masa depan Kabupaten Tangerang.

Pada sesi pertama, seminar menghadirkan Rob van der Most dari Blue Deal yang membawakan materi mengenai penguatan manajemen air perkotaan yang resilien, pembelajaran pengelolaan banjir dari Belanda, serta penerapan solusi berbasis alam untuk kawasan pesisir Indonesia. Selanjutnya, Prof. Irfan Budi Pramono dari BRIN memaparkan pentingnya inovasi, riset, dan tata kelola pembangunan dalam mewujudkan wilayah yang adaptif dan tangguh. Sesi pertama kemudian dilanjutkan oleh Irene Batara Batoarung yang membahas penguatan perlindungan kualitas air dan pengelolaan lingkungan sebagai bagian penting dalam mendukung pembangunan kawasan perkotaan dan pesisir yang berkelanjutan.

Sementara itu, pada sesi kedua, Dr. Shenghui Li dari Guangdong Ocean University, China, membahas pembangunan pesisir berkelanjutan dan penguatan ketahanan wilayah pantai melalui kolaborasi internasional. Dr. Handoko Adi Susanto selaku Interim Executive Director ATSEA menjelaskan strategi pengelolaan kawasan laut dan pesisir berbasis kolaborasi regional dan keberlanjutan lingkungan. Adapun Prof. Dr. Luky Adrianto dari IPB University memaparkan konsep regenerative sustainability dalam pembangunan ekonomi maritim dan kelautan berkelanjutan.

Kehadiran mahasiswa dan dosen Universitas Muhammadiyah Banten dalam forum internasional tersebut menunjukkan semangat akademik serta kepedulian terhadap isu pembangunan berkelanjutan dan lingkungan. Selama seminar berlangsung, mahasiswa UMBANTEN tampak aktif mengikuti setiap sesi diskusi dan pemaparan materi dari para narasumber.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banten juga turut berpartisipasi aktif dalam sesi tanya jawab dengan mengajukan berbagai pertanyaan kritis dan konstruktif kepada para pembicara nasional maupun internasional. Pertanyaan yang disampaikan banyak menyoroti isu pembangunan infrastruktur berkelanjutan, pengelolaan kawasan pesisir Kabupaten Tangerang, mitigasi banjir rob, tata kelola pembangunan adaptif, hingga implementasi solusi lingkungan berbasis masyarakat.

Partisipasi aktif tersebut menunjukkan semangat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banten untuk tidak hanya memahami teori di ruang perkuliahan, tetapi juga terlibat langsung dalam diskursus global mengenai pembangunan daerah, ketahanan lingkungan, dan keberlanjutan masa depan.

Para dosen Universitas Muhammadiyah Banten yang hadir juga memanfaatkan momentum seminar internasional ini untuk memperluas jejaring akademik, memperkuat kolaborasi riset, serta membuka peluang kerja sama di bidang pendidikan, lingkungan, pembangunan wilayah, dan sustainability bersama para akademisi serta lembaga internasional.

Melalui keikutsertaan dalam Tangerang International Development Seminar 2026, Universitas Muhammadiyah Banten menunjukkan komitmennya dalam memperkuat wawasan global mahasiswa, membangun budaya akademik yang aktif dan kritis, serta mendukung pembangunan daerah yang smart, resilient, dan sustainable.

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...