AS

KLIKMU.CO – Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan menyelenggarakan Pengajian Keluarga Sakinah, Ahad (6/9/2026). Kegiatan yang dihadiri para jamaah tersebut berlangsung di Masjid Al-Azhar, Jalan Dupak Bandarejo Nomor 25, Surabaya, mulai pukul 06.00 WIB hingga selesai.

Pengajian tersebut menghadirkan Guru Besar Ilmu Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Dr Uril Bahruddin MA. Ia menyampaikan materi bertema “Menjadikan Al-Fatihah sebagai Sistem dalam Kehidupan”.

Dalam paparannya, Prof Uril Bahruddin menegaskan pentingnya kedudukan Surah Al-Fatihah dalam kehidupan seorang muslim. Surah tersebut dibaca minimal 17 kali sehari dalam setiap shalat wajib. Bahkan, shalat tidak sah apabila seseorang tidak membaca Surah Al-Fatihah di dalamnya.

Dia menjelaskan bahwa Al-Fatihah merupakan Ummul Kitab atau induk Al-Qur’an. Surah ini juga disebut As-Sab’ul Matsani, yakni tujuh ayat yang senantiasa diulang-ulang.

Lebih lanjut, Prof Uril menguraikan Surah Al-Fatihah secara sistematis ke dalam beberapa kelompok ayat. Ayat 1 hingga 4, menurutnya, membahas orientasi hidup manusia.

Orientasi diartikan sebagai tujuan. Menurut Prof Uril, setiap aktivitas yang dilakukan manusia harus memiliki tujuan yang jelas. Hal tersebut diperlukan setidaknya karena dua hal.

Pertama, mengoptimalkan usaha agar seluruh daya dan potensi dapat diarahkan secara maksimal. Kedua, agar pencapaian dapat dievaluasi. Sebuah pencapaian hanya dapat dievaluasi apabila memiliki target dan tujuan yang terukur.

Prinsip tentang tujuan dan evaluasi tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Prof Uril menekankan bahwa kegiatan kecil sekalipun membutuhkan tujuan, terlebih kehidupan manusia yang membutuhkan arah dan tujuan yang pasti. Adapun orientasi utama seorang muslim adalah meraih rida Allah SWT.

Pada ayat 1 terdapat basmalah yang selalu diucapkan dalam setiap urusan yang baik. Ayat 2 mengandung makna tauhid rububiyah, yang menegaskan bahwa Allah SWT merupakan pemberi rezeki. Di akhirat kelak, rezeki yang diterima manusia akan dipertanyakan dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.

Ayat 3 menjelaskan bahwa Allah SWT Maha Luas rahmat-Nya. Sifat Ar-Rahman atau Maha Pengasih diberikan kepada seluruh makhluk di dunia. Sementara Ar-Rahim atau Maha Penyayang merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT di akhirat bagi orang-orang yang bertakwa.

Ayat 4 menanamkan orientasi terhadap hari kiamat. Kehidupan dunia dan akhirat merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu, seorang muslim seharusnya selalu memiliki sikap optimis dalam menjalani kehidupan.

Selanjutnya, ayat 5 hingga 7 menjelaskan sistem dan jalan hidup yang harus ditempuh manusia. Ayat 5 menjelaskan bahwa tugas manusia adalah beribadah kepada Allah SWT karena ibadah merupakan jalan hidup.

Ibadah didefinisikan sebagai segala tindakan yang diridai Allah SWT. Hal tersebut mencakup ibadah mahdah atau ibadah ritual murni dan ibadah ghairu mahdah berupa aktivitas muamalah atau umum.

Hal ini ditegaskan dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Prof Uril menambahkan bahwa makna dasar ibadah adalah perbaikan.

Ayat 6 mengingatkan bahwa perjalanan ibadah senantiasa dihadapkan pada berbagai tantangan, baik dari dalam diri maupun lingkungan. Untuk menghadapinya, diperlukan komunikasi yang intensif dengan Allah SWT melalui doa agar segala urusan dan pelaksanaan ibadah senantiasa dimudahkan.

Sementara itu, ayat 7 menjelaskan bahwa Allah SWT telah memberikan model atau teladan dalam kehidupan. Allah SWT menampilkan sosok orang-orang yang sukses untuk diteladani jalannya serta sosok orang-orang yang celaka untuk dijauhi jalannya.

Model orang-orang yang sukses tersebut, antara lain, para nabi, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Melalui pengajian ini, jamaah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Krembangan diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai Surah Al-Fatihah, bukan sekadar sebagai bacaan dalam shalat, tetapi juga sebagai pedoman, arah orientasi, dan sistem utama dalam menata kehidupan sehari-hari.

(Fikri/AS)

Artikel ini Pengajian PCM Krembangan, Guru Besar UIN Malang Kupas Al-Fatihah sebagai Pedoman Hidup Tayang Di klikmu.

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: KlikMUKunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Berita Daerah

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...