IBTimes.ID – Prestasi akademik tidak mengenal batas agama, latar belakang, maupun identitas. Di tengah keberagaman mahasiswa Indonesia, kisah Suster Fanti di Kampus Muhammadiyah menjadi gambaran tentang bagaimana ruang pendidikan dapat mempertemukan perbedaan sekaligus melahirkan prestasi.
Fantiana Maria Mo’ong atau akrab disapa Suster Fanti merupakan seorang biarawati Katolik asal Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia baru saja menyelesaikan ujian skripsi di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun.
Dengan raihan IPK sementara 3,90, Suster Fanti berpeluang menjadi salah satu kandidat lulusan terbaik UMJT pada wisuda periode 2026. Namun, lebih dari sekadar angka, perjalanan Suster Fanti di Kampus Muhammadiyah menghadirkan cerita tentang perjumpaan antara pendidikan, keberagaman, dan kerja keras.
Ujian skripsinya dilaksanakan pada 7 September 2026. Dalam penelitian berjudul Pola Asuh Demokratis untuk Anak Down Syndrome, ia mengangkat pentingnya kasih sayang, dukungan emosional, komunikasi dua arah, hingga kebebasan yang terarah.
“Ya sudah lulus setelah saya melakukan riset dengan bimbingan dosen prodi Kesejahteraan Sosial UMJT yang sabar membimbing riset kami,” ujar Suster Fanti saat ditemui usai mengikuti ujian skripsi bersama tim penguji di Ruang Rapat I Kampus I UMJT, Senin, 7 September 2026.
Prestasi Akademik dan Kepedulian Sosial
Penelitian tersebut dilakukan selama kurang lebih tiga bulan di Panti Asuhan Bhakti Luhur Madiun. Dari enam anak down syndrome yang berada di lokasi penelitian, Suster Fanti mengambil tiga anak sebagai sampel.
“Dengan pola asuh demokratis seperti ini diharapkan dapat menghilangkan label negatif soal anak down syndrome. Dengan pola asuh yang benar nantinya anak down syndrome bisa mandiri dan bisa diterima,” terang Suster Fanti.
Kisah Suster Fanti di Kampus Muhammadiyah menarik karena prestasi akademiknya berjalan beriringan dengan pengalaman sosialnya. Selain menjadi mahasiswa, ia juga merupakan guru di SLB Bhakti Luhur Madiun yang dikelola Yayasan Bhakti Luhur Madiun.
Setelah menjalani proses penyusunan skripsi selama enam bulan, Suster Fanti dinyatakan lulus dengan sejumlah revisi.
“3,90,” jawab Suster Fanti saat ditanya berapa IPK terakhir yang diraih.
Kampus yang Menjadi Ruang Pertemuan
Peluang menjadi lulusan terbaik masih akan ditentukan berdasarkan berbagai pertimbangan akademik, termasuk masa studi mahasiswa. Namun, kehadiran Suster Fanti di Kampus Muhammadiyah telah menunjukkan satu hal penting: kampus Muhammadiyah menjadi ruang belajar yang terbuka bagi mahasiswa dengan latar belakang yang beragam.
Suster Fanti bersama Maria Regina Asal Jawang, mahasiswa Katolik yang satu program studi dengannya, bahkan memiliki rekam jejak dalam kegiatan kepemimpinan lintas iman. Keduanya pernah mengikuti Muhammadiyah Youth Interfaith Leadership Program di Denpasar, Bali, pada Januari 2025.
Program tersebut menjadi ruang pelatihan kepemimpinan lintas agama bagi mahasiswa non-Muslim di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Melalui perjalanan Suster Fanti di Kampus Muhammadiyah, inklusivitas tidak hanya tampak dalam penerimaan mahasiswa dari latar belakang berbeda. Ia hadir dalam kesempatan yang sama untuk belajar, berprestasi, melakukan penelitian, hingga mengambil peran dalam ruang-ruang kepemimpinan.
Jika kelak menyelesaikan seluruh proses akademiknya dan mengikuti wisuda pada Desember 2026, Suster Fanti di Kampus Muhammadiyah akan meninggalkan pesan sederhana.
Pendidikan yang berkemajuan tidak meminta seseorang menghapus identitasnya, tetapi memberikan ruang agar setiap orang dapat bertumbuh dan memberi manfaat bagi sesama. (NS)
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: IBTimes.ID • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca