September 10, 2026, oleh Humas Universitas

Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy di sela peluncuran ESC di kampus UMM, Selasa (8/9/2026). Foto: dok.UMM.

MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mulai menggeser orientasi kampus dari sekadar penghasil pengetahuan menjadi institusi pemecah masalah. Langkah tersebut ditandai dengan peluncuran Excellent Solution Center (ESC) dalam rangkaian pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM 2026 di Hall Dome UMM, Selasa (8/9).

Peluncuran Excellent Solution Center UMM menjadi bagian dari penyambutan mahasiswa baru UMM Gen 26. ESC dirancang sebagai ekosistem yang mendorong sivitas akademika menghasilkan inovasi dan karya yang memberikan dampak nyata.

Melalui ESC, UMM memosisikan diri sebagai problem solving institution. Kampus tidak hanya berperan sebagai penyedia pengetahuan (knowledge provider), tetapi juga menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk berbagai persoalan masyarakat, industri, pemerintahan, hingga komunitas global.

ESC memiliki tiga pilar utama. Pertama, Service Excellent Hub yang menjadi pusat layanan terpadu sekaligus mengintegrasikan sumber daya dan teknologi, termasuk layanan pendampingan bagi mahasiswa.

Kedua, Industry Solution Partner (ISP). Pilar ini menghubungkan kepakaran, inovasi, serta fasilitas laboratorium UMM dengan kebutuhan industri.

Ketiga, Innovation & Talent Incubator. Pilar tersebut menjadi ruang pembinaan talenta sekaligus akselerator hilirisasi inovasi. Dengan demikian, karya sivitas akademika diharapkan tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat memberikan manfaat lebih luas.

Dorong Mahasiswa Lebih Kreatif

Peluncuran ESC juga diperkuat dengan pesan Penasihat Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Haji sekaligus Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP.

Muhadjir meminta mahasiswa baru membekali diri dengan lima kemampuan utama atau 5C. Yakni Critical Thinking, Creativity and Innovation, Communication Skill, Collaboration, dan Confidence.

Menurutnya, kemampuan tersebut penting agar mahasiswa tidak hanya memiliki keunggulan akademik. Mereka juga harus mampu melahirkan gagasan dan menyampaikannya secara efektif.

“Yang kedua adalah Creativity and Innovation. Berpikir kreatif, berkarya, berinovasi. Kalau otak kita kreatif, karya kita akan inovatif,” ujarnya.

Muhadjir juga menekankan kemampuan komunikasi. Mahasiswa UMM harus mampu berbicara dan menulis dengan baik agar gagasan yang dimiliki dapat diketahui dan memberikan manfaat.

“Mahasiswa UMM harus pandai berbicara, tentu saja pembicaraan, bicara yang baik, bukan asal bicara. Dan juga harus bisa menulis,” tegasnya.

Transformasi Ulat Jadi Kupu-kupu

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Badan Pembina Harian UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menekankan pentingnya perubahan pola pikir dan karakter ketika memasuki perguruan tinggi.

Mahasiswa, kata dia, harus mulai meninggalkan kebiasaan sebagai pelajar dan membangun sikap mandiri, pekerja keras, serta konstruktif.

Fauzan mengibaratkan proses pendidikan tersebut seperti transformasi ulat menjadi kupu-kupu. Pendidikan tidak hanya mengubah status seseorang, tetapi juga membentuk karakter dan nilai diri.

“Saudara saat ini barangkali masih masuk menjadi kepompong. Tetapi 4 tahun yang akan datang Saudara akan menjadi kupu-kupu,” ungkapnya.

Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., kemudian menegaskan identitas mahasiswa baru melalui semangat “UMM Gen 26: Excellent, Solution, Future.”

Semangat tersebut menjadi penanda arah pengembangan UMM. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk menyelesaikan studi, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang mampu menghadirkan solusi dan memberikan dampak bagi masyarakat.

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: UMM Kunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...