MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Muhammadiyah sebagai gerakan yang tumbuh kuat di lingkungan perkotaan harus semakin mampu menguasai ruang-ruang strategis di kota melalui dakwah, pendidikan, ekonomi, dan berbagai amal usaha yang unggul.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhadjir Effendy pada Sabtu (12/9) dalam Refleksi Milad ke-70 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebayoran Baru dan Hari Bermuhammadiyah Jakarta Selatan.

“Muhammadiyah itu adalah fenomena organisasi perkotaan, gerakan urban, urban movement. Karena itu, Muhammadiyah mestinya lebih eksis di kota. Tetapi memang salah satu tantangan terbesar Muhammadiyah adalah bagaimana Muhammadiyah bisa menguasai kota dan itu tidak mudah seiring dengan dinamika pertumbuhan perkotaan,” ungkap Muhadjir.

Menurutnya, perkembangan PCM Kebayoran Baru dan PDM Jakarta Selatan menunjukkan kemampuan Muhammadiyah untuk terus tumbuh di tengah masyarakat urban.

Muhadjir mengaku terkesan dengan berbagai capaian PCM Kebayoran Baru, mulai dari pengembangan sekolah, penampilan siswa dalam bidang seni dan Tapak Suci, hingga kemampuan menghasilkan karya buku.

“Saya kira untuk level PCM bisa menerbitkan karya buku itu tidak sembarangan. Ini PCM kelas PDM,” ujarnya.

Memasuki usia 70 tahun, Muhadjir mengingatkan agar kemajuan tersebut tidak dilepaskan dari jasa para pendahulu. Menurutnya, setiap kader Muhammadiyah harus memiliki orientasi untuk meninggalkan legacy atau jejak kebaikan.

“Itulah ciri kader Muhammadiyah. Ketika dia dipercaya, diberi amanah, ketika dia berada di suatu tempat, pasti di pikirannya apa yang bisa ditinggalkan, sesuatu yang baik di tempat ini,” katanya.

Karena itu, ia mengapresiasi pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh yang telah membesarkan PCM Kebayoran Baru. Menurutnya, tugas generasi berikutnya bukan hanya mengenang, tetapi juga menjaga, melestarikan, dan mengembangkan warisan baik para pendahulu.

Dalam konteks tersebut, Muhadjir merujuk prinsip al-muḥāfaẓatu ‘alā al-qadīmiṣ-ṣāliḥ, wal-akhdzu bil-jadīdil-aṣlaḥ, yakni memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.

“Yang lama yang baik juga harus dipertahankan, sementara kita cari yang lebih baik. Jadi kalau hanya mengambil yang lama saja dan tidak terlalu konsen ke yang baru, itu juga tidak bagus. Tetapi meninggalkan begitu saja yang lama yang baik juga tidak bagus. Itulah ciri bermuhammadiyah,” ujarnya.

Semangat tersebut, lanjut Muhadjir, tercermin dalam keteladanan Kiai Ahmad Dahlan. Pendiri Muhammadiyah itu memiliki keterbukaan pikiran dan sikap atau open minded dan open attitude, sehingga mampu membangun hubungan dengan berbagai kalangan sekaligus melihat peluang dakwah yang tidak selalu dilihat orang lain.

“Kiai Dahlan itu pemberani mengambil cara yang berbeda,” katanya.

Karakter tersebut menurut Muhadjir harus terus hidup dalam Muhammadiyah. Warga Persyarikatan tidak boleh mudah membatasi diri maupun menghabiskan energi untuk perdebatan yang tidak produktif.

“Jangan mudah membatasi diri, apalagi terlibat percekcokan di medsos. Sedikit bicara, banyak kerja lebih bagus,” pesannya.

Muhadjir juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan peningkatan kualitas amal usaha. Dalam bidang pendidikan, misalnya, Muhammadiyah harus berani membangun sekolah yang unggul dan modern tanpa meninggalkan keberpihakan kepada masyarakat kurang mampu.

“Lebih baik bikin sekolah yang gagah, yang hebat dan modern, tapi jangan lupa sisihkan sebagian kursi untuk mereka yang tidak mampu, gratis di situ. Itu namanya berkemajuan,” pungkasnya. (taufik)

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: Persyarikatan MuhammadiyahKunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...