Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir didampingi Agung Danarto dan Muhammad Sayuti saat peluncuran logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah. Logo tersebut terinspirasi dari daun kelor yang tumbuh subur di Palu (Suara ‘Aisyiyah.id)
Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Daun kelor menjadi inspirasi logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah yang akan digelar pada November 2026 mendatang di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, daun kelor pada logo Tanwir dan Milad ke-114 ini bukan sekadar simbol, tapi memiliki makna kesederhanaan dan ketangguhan.
“Daun kelor ini ada di mana-mana, tapi tumbuh subur di Palu. Menurut beberapa orang yang mencoba mencari makna simbolik, daun kelor itu termasuk miracle tree atau pohon ajaib. Dia juga sebagai lambang kesederhanaan dan ketangguhan. Sederhana itu apa adanya, sementara tangguh itu berarti kuat.”
Hal itu disampaikan Haedar Nashir saat Peluncuran Logo Tanwir dan Milad Ke-114 Muhammadiyah yang berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro Yogyakarta pada Sabtu, (12/9/2026).
Menurut Haedar, pohon kelor ini bisa tumbuh di manapun dan tidak perlu sering disiram. Maka dalam konteks pergerakan Muhammadiyah, Tanwir dan Milad ke-114 harus semakin memperkuat kesederhanaan dan ketangguhan, serta adapatif dalam setiap zaman dan pergerakan.
“Daun kelor itu simbol keluasan. Maka ada istilah dunia tidak selebar daun kelor. Artinya daun kelor itu lambang keluasan jelajah pergerakan kita. Dengan luasnya jelajah, lalu akan menjadi inklusif. Kemudian kita bisa menghadapi kehidupan dengan universalisme yang bernilai,” ulasnya.
Haedar menambahkan, sebagai pohon keajaiban atau miracle tree, daun kelor juga menjadi lambang kesejahteraan dan kemakmuran. Hal itu terbukti bahwa daun ini bisa dimasak dan enak.
“Oleh sebab itu, peluncuran logo ini bukan sekadar simbol. Tapi punya makna, termasuk makna estetika. Kita ini pergerakan, dan pergerakan kita pasti punya makna,” bebernya.
Ulas Tiga Filsafat Makna
Lebih lanjut, Haedar menjabarkan tiga pendekatan dalam filsafat makna (the philosophy of meaning).
BACA JUGA
Pertama, pendekatan filsafat bahasa yang berkaitan dengan makna referensial. Melalui pendekatan ini, ia mengajak warga Muhammadiyah melihat lebih jauh makna yang berada di balik bentuk atau simbol yang dikreasikan.
“Kita jangan hanya melihat sesuatu, tapi lihatlah maknanya. Muhammadiyah juga sesuatu yang punya makna, karena gerakan ini punya rujukan,” ungkapnya.
Kedua, pendekatan ideasional. Bahwa sesuatu yang simbolik sekalipun, itu lahir dari ide gagasan. “Mereka yang banyak gagasan, maka bisa melahirkan banyak simbol dan bisa memaknai simbol. Sebaliknya, mereka yang kering gagasan, maka tidak bisa membaca simbol,” kata Haedar.
Ketiga, pendekatan eksistensialisme yang melihat Muhammadiyah sebagai eksistensi gerakan Islam atau harakah islamiah yang di dalamnya menyertai esensi pencerahan.
Tuan Rumah Siap Menyambut Ramah
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, Muh. Amin Parakkasi menyambut baik dan menerima amanah sebagai tuan rumah pelaksanaan Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah yang akan berlangsung pada Kamis-Sabtu, (19-21/11/2026) di Universitas Muhammadiyah Palu.
Baginya, pelaksanaan Tanwir dan Milad bukan semata-mata agenda organisasi, melainkan momentum strategis untuk meneguhkan gerakan Islam berkemajuan dalam berkhidmat pada umat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Kami terus melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan seluruh unsur kepanitiaan. Insya Allah kami akan menjadi tuan rumah yang ramah, tertib, dan membahagiakan,” ujarnya.
Dia menuturkan, bahwa peluncuran logo ini memiliki makna yang sangat penting. Bukan sekadar identitas visual, tetapi sebagai tanda dimulainya gerakan bersama, semangat bersama, dan ikhtiar besar menyambut Tanwir dan Milad.
“Dari Sulteng kami sampaikan seluruh keluarga besar Muhammadiyah. Insya Allah Sulteng dengan dukungan Gubernur dan Ketua DPRD Provinsi siap menyambut seluruh peserta maupun tamu persyarikatan. Kami menyambut dengan penuh kegembiraan dan persaudaraan,” ucap Amin.
“Mari semarakkan Tanwir dan Milad untuk terus bergerak, berkhidmat ,dan menghadirkan IsIam berkemajuan untuk Indonesia dan kemanusiaan universal. Semoga allah meridhai dan memudahkan segala ikhtiar kita,” tutupnya. (Nely)
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: suara aisyiyah • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca