Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah — Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan Mubalighat Nasyiatul Aisyiyah (PMNA) tingkat dasar di Aula Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (12/9/26).
Kegiatan bertema “Mubalighat Adaptif untuk Dakwah yang Mencerahkan” ini diikuti oleh 37 peserta dari berbagai cabang Nasyiah se-Yogyakarta dan sekitarnya, termasuk beberapa peserta dari organisasi otonom Muhammadiyah lainnya.
Sekretaris PDNA Yogyakarta, Nafisah Rahimi mewakili Ketua PDNA menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu ikhtiar PDNA dalam perkaderan non-formal.
“Pelatihan mubalighat ini menjadi salah satu ikhtiar kami dalam mewujudkan mubalighat yang adaptif, sehingga harapannya teman-teman dapat mengikuti pelatihan secara aktif,” imbuh Nafisah.
Ia berharap ilmu yang diperoleh peserta dari pelatihan ini dapat dibawa kembali ke lingkungan masing-masing, baik di sekolah, lingkungan kerja, maupun masyarakat luas.
Sementara itu, perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Yogyakarta, Nofiar Handy Alfaani dalam sambutannya menyebut sejumlah figur mubalighat perempuan yang berhasil sebagai teladan, seperti Siti Khadijah dan Nyai Walidah.
BACA JUGA
Baca Juga: Mendorong Perempuan Menjadi Mubaligat Berkemajuan
Ia menekankan pentingnya perempuan menuntut ilmu agar semakin banyak lahir ulama perempuan yang bermanfaat bagi masyarakat. “Teman-teman bisa meneladani peran-peran beliau,” ujarnya. Nofiar juga mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini dan berharap dapat berjalan lancar.
Senada dengan itu, Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Yogyakarta, Rowiyah yang ditemui di sela-sela acara turut menyampaikan apresiasinya. Ia berharap pelatihan ini dapat melahirkan para public speaker perempuan yang bermanfaat di lingkungan masing-masing.
“Semoga dari kegiatan ini lahir para public speaker perempuan yang bermanfaat di lingkungan masing-masing,” ujar Rowiyah.
Ketua Panitia, Bunga Wulan Sari, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih kurangnya jumlah mubalighat, khususnya di Yogyakarta.
“Kegiatan ini dilatarbelakangi atas masih kurangnya mubalighat, khususnya di Jogja. Kegiatan ini berupaya mencetak mubalighat sesuai dengan kebutuhan zaman,” kata Bunga. (sa)
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: suara aisyiyah • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca