London, Suara ‘Aisyiyah – Pengalaman perempuan menempuh studi di luar negeri, baik yang berangkat sendiri, membawa anak, maupun mendampingi pasangan, menjadi bagian utama dalam Pre-Departure Briefing Britania Raya dan Irlandia yang digelar Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Britania Raya dan Irlandia (PCIM BRI) bersama Mata Garuda Britania Irlandia (MGBI) LPDP.

Kegiatan ini berlangsung pada Ahad (13/9/26) secara daring melalui Zoom. Acara terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Tiga dari lima narasumber adalah perempuan dengan situasi yang berbeda-beda. Irnawati Bahtiar, Sekretaris Umum MGBI dan Ketua MPKSDI PCIM Britania Raya dan Irlandia, berbagi pengalaman menempuh program doktor di Queen’s University Belfast sambil mengasuh anak.

Deslaely Putranti, Sekretaris MPKSDI PCIM Britania Raya dan Irlandia dan mahasiswa doktoral di University of Galway, menceritakan pengalamannya menjalani studi seorang diri di Irlandia.

Sementara S Bela Nagari, Anggota MPPK PCIM Britania Raya dan Irlandia, berbagi pengalaman sebagai student dependant yang mendampingi pasangan di University of Birmingham.

Ketua PCIM Britania Raya dan Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir, menyampaikan bahwa banyak kesulitan pada tahun pertama sebenarnya dapat diantisipasi sejak sebelum keberangkatan.

“Banyak persoalan yang dihadapi mahasiswa Indonesia di tahun pertama sebenarnya bisa diantisipasi jauh sebelum berangkat, asalkan informasinya datang dari orang yang benar-benar pernah mengalaminya. Itulah yang kami hadirkan dalam briefing ini,” ujarnya.

Sekretaris Umum PCIM Britania Raya dan Irlandia, Susana Widyaningsih, menjelaskan alasan acara ini tidak memakai format pemateri tunggal.

Baca Juga: Jalan Terjal Kuliah Doktoral

“Kami tidak memakai format pemateri tunggal karena kondisi tiap orang berbeda. Yang berangkat sendirian dan yang membawa anak punya persiapan yang tidak sama,” katanya.

Menurut Ince Dian, perempuan yang menempuh studi di luar negeri kerap menghadapi persoalan yang jarang dibahas dalam pembekalan umum, mulai dari pengasuhan anak dan pencarian tempat penitipan, pendaftaran sekolah, sampai pembagian peran dalam keluarga ketika beban studi sedang berat. Hal-hal tersebut termasuk yang dibahas dalam sesi kali ini.

Narasumber lain yang hadir adalah Thareq Barasabha, Ketua PPI Oxford sekaligus Sekretaris MPPK PCIM Britania Raya dan Irlandia dan mahasiswa doktoral di University of Oxford, serta Guntur Maulana Zamroni, Anggota MEK-AUM PCIM Britania Raya dan Irlandia dan mahasiswa doktoral di University of Galway yang berangkat bersama keluarga.

Sesi dimoderatori oleh Ardi Muhammad Rifqi, Ketua Divisi Gema dan LPDP Liaison MGBI, yang sedang menempuh studi magister di University of Sussex.

Ketua Mata Garuda Britania Irlandia, Zulkarnaim Masyhur, menilai masa menjelang keberangkatan sebagai fase yang menentukan bagi para awardee.

“Dengan menghadirkan narasumber dari berbagai kondisi keluarga dan jenjang studi, kami berharap awardee bisa berangkat dengan gambaran yang realistis, bukan sekadar ekspektasi,” ujarnya.

Selain isu keluarga, materi yang dibahas meliputi persiapan keberangkatan, pencarian tempat tinggal, akses layanan kesehatan NHS, dan pengaturan biaya hidup. Sesi tanya jawab dibuka sepanjang acara. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui akun Instagram @pcimbritaniaraya_irlandia dan @mgbi.lpdp.

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: suara aisyiyahKunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Pusat Aisyiyah

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...